Buat Site Plan

11 Langkah Membuat Site Plan dari Awal dan Tipsnya!

Site plan yang baik tidak hanya mempermudah proses pengajuan izin dan komunikasi dengan pihak teknis seperti kontraktor atau arsitek, tetapi juga mencerminkan perencanaan yang matang dan profesional. Meskipun kini sudah banyak software untuk membantu membuat site plan, menggambar site plan dengan elemen-elemen yang lengkap dan mudah dibaca membutuhkan serangkaian langkah sistematis, pemahaman terhadap kebutuhan proyek, serta pemilihan metode dan alat yang sesuai. Membuat site plan pun tidak sama dengan floor plan, karena itulah Anda perlu mengetahui 11 langkah membuat site plan dari awal dan tipsnya.

Artikel ini dapat menjadi panduan lengkap untuk Anda dalam membuat site plan, mulai dari menentukan tujuan pembuatan site plan, memilih metode manual atau digital, menetapkan skala, hingga menambahkan elemen-elemen penting yang harus ada di dalamnya. Berikut langkah-langkah dalam membuat site plan beserta tipsnya!

1. Menentukan Tujuan Pembuatan Site Plan

Langkah pertama adalah memahami tujuan dari pembuatan site plan. Apakah untuk pengajuan izin bangunan, perencanaan lanskap, atau sekadar dokumentasi pribadi? Anda perlu mengetahui tujuan ini untuk menentukan tingkat detail dan akurasi dalam site plan Anda.

2. Memilih Metode dan Alat Gambar

Anda dapat memilih antara menggambar secara manual atau menggunakan perangkat lunak desain. Pilihlah metode yang sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan Anda dengan perbandingan berikut ini:

  • Manual: Menggunakan kertas milimeter, pensil, penggaris, dan penghapus. Cocok untuk proyek kecil atau bagi yang terbiasa dengan metode tradisional.
  • Digital: Menggunakan software seperti AutoCAD, SketchUp, dll. Metode ini menawarkan presisi tinggi dan kemudahan dalam melakukan revisi.

3. Tetapkan Skala Gambar

Langkah selanjutnya dalam menyusun site plan adalah memilih skala gambar yang sesuai. Beberapa panduan menyarankan menggunakan skala 1 inch = 10 kaki atau 1:100 meter, terutama saat menggambar secara manual di kertas. Skala ini membantu mempertahankan proporsi antar elemen agar akurat dan mudah dibaca. Jika Anda menggunakan software digital, Anda tetap perlu menetapkan skala yang konsisten agar hasil akhir bisa membantu keperluan teknis seperti pengajuan izin atau konstruksi. Skala juga menentukan seberapa rinci informasi yang bisa masuk dalam gambar tanpa membuatnya terlalu padat atau sulit dipahami.

4. Menggambar Garis Batas Properti

Setelah menentukan skala, Anda bisa mulai menggambar garis-garis batas properti. Garis ini merepresentasikan area legal milik pemilik lahan dan menjadi dasar dari seluruh penempatan elemen lainnya dalam site plan. Pastikan kamu memiliki data ukur yang akurat, mulai dari dokumen sertifikat tanah, hasil survei lahan, atau data topografi dari instansi terkait.

Perhatikan juga sudut-sudut dan panjang garis sesuai dengan ukuran sebenarnya. Bila perlu, gunakan software desain arsitektur yang memungkinkan input numerik agar hasilnya lebih presisi.

5. Menempatkan Struktur yang Sudah Ada

Langkah berikutnya adalah memasukkan informasi tentang struktur yang telah berdiri di atas lahan tersebut, seperti rumah utama, bangunan tambahan, gudang, atau bahkan pohon besar yang tidak bisa dipindah. Posisi dan dimensi struktur harus benar-benar sesuai dengan skala yang sudah ditentukan.

Baca Juga: 6 Kesalahan Umum dalam Membuat Site Plan

6. Menandai Jalan Masuk dan Jalur Pejalan Kaki

Salah satu aspek penting dari site plan adalah aksesibilitas. Pastikan anda menandai jalan masuk kendaraan (driveway) dan jalur pejalan kaki (walkway) dengan jelas. Jalur ini menentukan arus keluar-masuk ke bangunan dan memiliki peran besar dalam mendesain kenyamanan dan keamanan pengguna.

7. Menambahkan Fitur Lanskap

Langkah selanjutnya, menambahkan fitur-fitur lanskap seperti pohon, taman, semak, atau badan air (danau kecil, saluran air, dsb). Elemen ini tidak hanya menambah nilai estetika, tetapi juga punya pengaruh terhadap drainase, pencahayaan alami, dan sirkulasi udara.

Jika lahannya memiliki kemiringan atau lereng, tunjukkan perubahan kontur atau level tanah (elevasi) agar pihak kontraktor dapat memperhitungkan volume tanah yang perlu diolah. Fitur alam seperti ini seringkali mempengaruhi layout struktur atau memerlukan perlindungan khusus berdasarkan peraturan lokal.

8. Menentukan Lokasi Utilitas

Bila perlu, cari dan tentukan lokasi jalur utilitas yang ada untuk air, listrik, gas, dan pembuangan limbah. Mengetahui lokasi utilitas ini penting untuk perencanaan konstruksi dan penghindaran kerusakan selama pembangunan.

9. Menyertakan Panah Utara dan Legenda

Sertakan panah utara untuk membantu dalam mengarahkan denah lokasi dalam site plan Anda agar mudah dipahami. Selain menambahkan panah utara, tambahkan juga legenda yang berisi penjelasan simbol-simbol dan jenis-jenis garis yang akan Anda gunakan pada site plan. Hal ini akan membantu siapapun yang membaca site plan dapat memahami elemen-elemen visual dengan cepat.

10. Tinjau Kembali dan Sesuaikan

Setelah seluruh elemen tergambar, langkah penting selanjutnya adalah meninjau kembali hasilnya. Cek apakah ada elemen yang terlewat, posisi yang tidak proporsional, atau label yang kurang jelas. Periksa juga apakah seluruh bagian gambar sudah berskala dan logis secara penempatannya.

11. Finalisasi dan Siap untuk Distribusi

Langkah terakhir adalah membersihkan gambar dari coretan tidak perlu, memastikan semua garis tajam dan jelas terbaca. Jika menggunakan gambar manual, gunakan pena dengan ketebalan yang sesuai dan hilangkan garis bantu pensil. Untuk gambar digital, pastikan resolusi cukup tinggi untuk dicetak dan dapat disimpan dalam format umum seperti PDF dan DWG.

Site plan yang sudah selesai bisa langsung digunakan untuk mengajukan perizinan bangunan, komunikasi dengan kontraktor dan arsitek, dokumen resmi pengembangan properti, bahan presentasi ke investor atau klien. Namun perlu memerhatikan beberapa daerah yang memiliki peraturan masing-masing mengenai site plan, sehingga bisa sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Membuat site plan yang akurat dan informatif memerlukan perencanaan yang matang dan perhatian terhadap detail. Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat menghasilkan site plan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan proyek tetapi juga mematuhi peraturan yang berlaku. Baik menggambar site plan secara manual maupun digital, kunci utama adalah ketelitian dan pemahaman yang baik tentang perencanaan lahan.

Nah, bila Anda berencana membangun gedung, kawasan perumahan, atau proyek lainnya  dan merasa kesulitan membuat site plan secara mandiri terutama tanpa ingin berlangganan software yang kompleks, maka percayakan saja pada ahlinya! Marigo Jaya Perkasa siap membantu Anda menyusun site plan yang tepat dan akurat sesuai dengan aturan tata ruang yang berlaku.

Oleh: Aditya Sidhiq Pratama & Glen Stevano Tanihatu

Sumber:

HATI-HATI!


Terhadap penipuan yang mengatasnamakan PT. Marigo Jaya Perkasa. 

Saat ini kami sedang tidak mengadakan rekrutmen / penerimaan karyawan.

Jika suatu saat kami mengadakan rekrutmen, maka segala proses tidak akan dipungut biaya apapun, dan calon akan dihubungi melalui nomor resmi PT. Marigo Jaya Perkasa yang tertera di website ini.

Salam, 

This will close in 0 seconds